Kandisa #1



Ada yang mengganjal, namun tak tahu dia apa. Perasaan segan pada kehidupan tiap kali membuka mata dan merasakan udara mengalir melalui hidung, melewati tenggorokan lalu jatuh entah ke mana. Ke mana memang? Tentu saja ke paru-paru. Bukan, udara yang dia hirup jatuh pada bagian yang lebih dalam, terlalu dalam dan gelap untuk dia jangkau. Pemandangan entah apa yang ia lihat, sehingga seringkali enggan ia untuk membuka mata. Harusnya aku tidur dan tidak bangun lagi, begitu batinnya berbicara. Apa yang ia lihat di pagi hari memang? Langit-langit, dinding, jendela, pintu, buku-buku, apa? Lebih dari itu, ia melihat langit malam yang dipenuhi bintang dalam satu pandangan. Lenyap sudah ketika ia berkedip, pada kedipan selanjutnya yang ada hanya dunia kasar. Bagaimana cara agar bintang-bintang dan malam itu tidak hilang? Jangan berkedip sudah. Pedih, konyol sekali! Tidak usah bangun. Apa pula, tubuh dia otomatis, seperti tarikan nafas yang keluar masuk paru tanpa permisi, matahari dan bulan yang silih berganti. Tau tidak, taulah pasti kalau hidup ini serba otomatis. Ada semacam roda bergerigi yang saling saut menyaut dan berputar, seperti tamiya. Kalau begitu, lalu dinamonya dimana?
Siksa apa yang paling sakit di dunia? Kandisa bertanya-tanya dalam hati, entah pertanyaan itu datang dari mana. Ia lalu menjawab tanya itu sendiri, siksa itu kadarnya berbeda-beda, sengsara pun begitu. Mau contoh, segala contoh sudah ada di dalam kepala Kandisa, tanya saja pada dia. Kandisa tersiksa, mengapa? Karena perasaan mengambang yang ia rasa tiap kali membuka mata di pagi hari.  
Kandisa bimbang dan tersiksa dengan kesendirian. Bukan ia tak punya kawan, laki-laki yang suka dengan Kandisa banyak pula. Kalau semua dijejerkan, tinggal pilih saja dia mau yang mana. Yang tampan, yang kaya, yang tampan dan yang kaya atau yang apa? Sayangnya, satu pun di antara yang ada, tiada yang dia suka. Kasihan yang suka dia, bertepuk sebelah kaki, berjalan sendiri, pincang.
Ada lagi yang menambah siksa dan kebingungan dalam dirinya

Sebuah Bantal


“Wow.” Ucap si tukang mimpi yang semalam menginap di kamarku, ia bangun lalu menceracau tentang mimpi-mimpinya yang banyaaaaakkkk sekali. “Aku seperti mendapat pencerahan ini.” Katanya lagi.
Pantas saja bangunnya siang, dengan arti lain aku bangun setengah jam lebih awal daripada dia. Tidak siang-siang amat, jam setengah 6 ia bangun, aku jam 4.52. Pada titik 4.52 itu, perasaan enak menyapaku, aku tidak bermimpi apa-apa memang, hanya gelap saja. Ataukah gelap itu juga mimpi, aku tidak tau, anggap saja mimpi supaya aku juga dikatakan bermimpi. Mimpiku itu yang gelap barusan, isinya dari awal sampai akhir hanya hitam. Kau pernah tidur dengan kondisi lampu yang mati? Aku juga pernah, namun gelap di dalam kepalaku ketika aku tidur jauh lebih gelap dari kamarmu ketika kau tidur.